Saya sebenarnya sudah bercerita singkat mengenai pengalaman saya ke Turki di podcast youtube saya. Saya juga sudah membagikan tips nabung ke Turki.
Sebelumnya saya sudah booking tiket PP di tiketcom pada tanggal 9 November 2022 untuk periode waktu 26 November - 5 Desember 2022.
Hari Keberangkatan
Saya berangkat dari kota asal saya, Kota Kotamobagu pada tanggal 26 dini hari, atau sekitar jam 1 pagi menuju Bandara Samratulangi - Manado, yang memiliki jarak tempuh sekitar 170 km (4 jam) dengan menggunakan mobil taksi yang saya pesan satu hari sebelumnya. Saya diantar oleh ibu saya ke bandara. Kami sampai di bandara sekitar pukul 5 pagi. Ibu saya langsung kembali, dengan mobil taksi yang sama. Sementara saya menunggu waktu keberangkatan ke Jakarta (MDC-CGK) dengan maskapai Citilink QC 301 (07.25 - 09.40). Sambil menunggu waktu check-in, saya mengobrol dengan pasangan saya di Whatsapp. Dia sangat antusias dengan kedatangan saya, mengingat kami beberapa kali menunda pertemuan karena beberapa kendala.
Setelah menunggu beberapa waktu, saya akhirnya check-in dan mengobrol dengan petugas bandara. Beliau, wanita itu tidak percaya jika saya hanya membawa satu ransel saja. Hehehe. Jujur saja saya tidak mau ribet, mengingat ini adalah perjalanan jauh dan melelahkan.
Kemudian setelah saya tiba di Jakarta, saya tidak perlu capek-capek lagi untuk berganti terminal karena saya sudah di terminal 3. Saya hanya perlu berjalan sedikit untuk menuju terminal keberangkan internasional. Saya harus menunggu cukup lama, karena jadwal keberangkatan saya ke Turki (CGK-IST) dengan maskapai Turkish Airlines TK 57 (21.40 - 05.55). Saya cukup bosan dan meluangkan waktu dengan menelpon sahabat saya yang sedang bekerja di Kabupaten Pinrang. Dia adalah sahabat saya saat kuliah di universitas. Kami sempat sekelas di tahun ke-3 kuliah. Dia adalah sosok yang hangat meskipun sibuk sekali. Saya menganggapnya sahabat, tetapi entahlah dengan dia.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya jadwal check in tiba. Saya langsung cepat mengantri di loket maskapai Turkish Airlines. Saya diapit oleh bule, ada bule yang mempersilahkan antrian lebih dahulu. Proses check-in cukup singkat, mengingat saya tidak membawa barang untuk bagasi. Petugas loket hanya memastikan jadwal kepulangan saya. Selanjutnya saya langsung menuju pemeriksaan imigrasi. Jujur saya cukup deg-degan. Saya sudah mempersiapkan beberapa dokumen:
- Passport
- Print out tiket PP
- Print out bookingan hotel
- Print out slip gaji terakhir
- Surat cuti yang sudah di ttd atasan
Dari pengalaman saya, petugas imigrasi menanyakan beberapa hal:
- Tiket PP
- Pekerjaan
Berhubung passport saya masih kosong, seorang petugas berusaha mencegat (dipanggil ke dalam), tetapi saat saya melampirkan surat cuti, beliau langsung mengizinkan saya lewat. Beliau hanya berbincang sedikit dan menyampaikan salam perpisahan, semoga sampai dengan selamat. Selanjutnya, saya berjalan menuju ruang tunggu untuk boarding dan berangkat.
Saat di dalam pesawat, saya duduk di bangku tengah. Saya diapit oleh dua orang indonesia, wanita muda usia 20 akhir dan wanita tua usia 50-an. Wanita tua atau orang tua ini mengajak saya sedikit mengobrol. Beliau berencana mengunjungi anak perempuannya yang sudah menikah dengan bule jerman. Sementara, wanita muda di samping saya sibuk mengerjakan sesuatu di leptopnya.
Jujur saja, saya seperti orang bingung. Saya berusaha memperhatikan sekitar, seperti cara menyalakan layar untuk menonton atau memperhatikan orang saat antri di toilet. Selain itu, selama perjalanan saya sudah tidur dan bangun 4 kali tetapi belum juga sampai. Ini benar-benar perjalanan yang panjang. Dan untuk pengalaman makanan di pesawat, sejujurnya saya hanya mengunyah roti yang disediakan karena tidak berselera dengan jenis makanan lainnya. Alhasil, sampai di Turki saya kelaparan.
Tiba di Turki
Saya tiba lebih awal, sekitar 20 menitan. Perjalanan turun dari pesawat hingga keluar bandara, cukup jauh juga. Saya juga kebingungan mencari pintu imigrasi. Orang-orang turki tidak berbicara Bahasa Inggris. Setelah saya menemukan dan melewati pintu imigrasi, akhirnya saya sadar kalau saya lupa membeli kuota internet (paket luar negeri). Saya juga bingung mencari pintu exit. Saya berkali-kali berputar di tempat pengambilan bagasi.
Saya kembali mengecek Whatsapp saya, dan mendapati kiriman gambar dari pasangan saya sebelum internet saya berhenti.
Setelah menunggu sekitar 10-20 menit, akhirnya kami berangkat ke daerah Taksim. Saat itu masih pagi sekitar setengah 7 pagi. Masih gelap gulita. Sepanjang perjalanan saya dan dia berusaha tidur sedikit. Mengingat pasangan saya tidak cukup tidur karena begitu antusias dengan kedatangan saya.
Sampai di Taksim, kami berjalan sedikit dan menemukan kafe untuk sarapan pagi. Cuaca saat itu sekitar 13 derajat celcius dan cukup berangin kencang. Paha dan lutut saya terasa dingin meskipun memakai celana panjang.
Saya lupa saya makan apa saat pertama kali sampai di Turki, yang saya ingat itu adonan tepung yang berisi kentang. Kami sarapan, dan lanjut berjalan menyusuri pusat kota. Pasangan saya mengajak saya melihat laut, tetapi cukup jauh. Cukup melelahkan berjalan di permukaan tanah yang tidak datar ya. Jalannya cukup berbukit dan terjal, serta satu hal yamg membuat saya kaget adalah pengemudi disana seperti tidak tahu aturan lalu lintas. Harus berhati-hati, untuk orang asing yang baru pertama kali berkunjung.
Saat pukul 12 siang, kami menuju hotel untuk menitipkan tas dan beristirahat sedikit. Saya menyempatkan untuk mandi, karena saya sudah cukup kegerahan dengan perjalanan panjang. Setelahnya, kami keluar lagi untuk memutari kota Istanbul.
Keesokan harinya, kami kembali berputar mengitari Kota Istanbul dan setelah jam 11 siang kami check-out dan bersiap ke Kota Bursa, kota tempat tinggal pasangan saya. Kami berangkat ke Bursa dengan kapal penyebrangan dengan jarak tempu sekitar 2 jam. Saya ketiduran. Saat sampai di pelabuhan, kami perlu menunggu bus untuk ke area tempat tinggalnya di Görükle, Bursa. Setelah sampai di tempat tinggalnya. Kami beristirahat sebentar, lalu berjalan menuju mini market untuk membeli bahan makanan untuk makan malam. Pasangan saya memasak untuk saya.
Keesokannya lagi, saya sakit flu dan di hari yang sama, ibu dari pasangan saya datang berkunjung. Kami berkenalan dan bertemu untuk pertama kali. Beliau berhati hangat, beliau memasak pasta dan membawakan sarma dari rumahnya. Masakannnya sangat enak. Sejujurnya saya cukup takut jika tidak disukai. Tetapi saya salah, ibunya sangat baik dan menghadiahkan saya topi rajutan lagi dan sepasang kaos kaki.
Keesokan harinya lagi, pasangan saya perlu bekerja di pabrik. Dia bekerja di perusahan otomotif, Renault. Saya sendiri di rumah dan di siang hari ibunya datang berkunjung. Kami keluar bersama, dan menunggu pasangan saya selesai bekerja untuk bertemu dan makan di luar. Setelahnya, ibunya kembali sendiri ke rumahnya, sementara saya dan pasangan saya melanjutkan jalan-jalan melihat kota.
Sebenarnya, kami lebih menghabiskan waktu bersama. Seperti nonton netflix di rumah, makan di luar, berbelanja di toko, jalan-jalan ke Gunung Uludag bersama ibunya, juga ke beberapa tempat lainnya.
Kami sempat memiliki rencana ke Kota Izmir tempat studi pasangan saya dulu, tetapi batal karena pasangan saya ada urusan melengkapi dokumen keberangkatan ke Paris - France untuk perjalanan bisnis bersama tim kerjanya.
Kepulangan ke Indonesia
Di hari keberangkatan saya untuk pulang ke Indonesia adalah hari yang sama untuk keberangkatan pasangan saya ke France. Dia mengantar saya terlebih dahulu di tanggal 4 malam, karena penerbangan saya ke Jakarta (IST-CGK) sekitar pukul 2 pagi di tanggal 5 Desember, sementara keberangkatan dia ke France juga di tanggal 5 pukul 7 pagi.
Setiba saya di Jakarta, pasangan saya mengabari jika dia baru turun dari pesawat dan perjalanan menuju hotel. Sementara saya perlu melanjutkan perjalanan ke Manado.
****
Mungkin sekian cerita kali ini, silakan mampir di cerita selanjutnya. Jika berkenan silakan mampir ke ruang bucin dan ruang belajar bahasa Turki.


Komentar
Posting Komentar